Menelusuri Sejarah Daik-Lingga Riau Kepulauan
|
|
Gunung Daek bercabang tige
Nampak tersenyom dari Selat Melake
Adat resam dan nilai budaye
Pusake yang haros kite bine bersame
Pulau
Pandan jaoh ditengah
Gunong
Daek becabang tige
Hancor
badan dikandong tanah
Budi
baek dikenang jue
Asal mule kate"DAIK" (Lingga)
Orang pertame yang
menjejakkan kaki dipulau tempat terdapatnye Gunong Daik adalah Megat
Kuning. Katenye die berasal dari Melake. Konon kabarnye, Megat Kuning
merupakan anak cucu Megat Seri Rama. Tujuannye berkelane itu, gune mencari
kawasan baru untuk menyebarluaskan pengaruh keturunannye di Melake.
Berkayuhlah die sendiri di arah selatan gunong yang bercabang tige itu. Dari hilir die menelusuri hingge ke hulu pulau itu (di bagian selatan Pulau Lingge, air surut laut mengalir dari arah barat ke timur Pulau Lingge dan sebaliknye pade saat air laot pasang, arusnye bergerak dari timur kearah barat Pulau Lingge). Dikawasan yang berbatu terjal, dari arah barat menyusuri timur, die menjumpai muare sungai. Dengan menggunakan sampan. Die menyusuri sungai menuju kearah hulu. Pade kejauhan tertentu, die tibe pade Kampong Tande saat ini. Megat Kuning memberi tande pade sungai itu. Tande itu dilakukan dengan care menetak atau menarah bagian pangkal batang kayu yang tumbuh dikiri dan kanan sungai itu. Dari sinilah name sungai yang dimasukinye itu diberi name yaitu Sungai Tande.
Setelah menande sungai itu, Megat Kuning kembali ke hilir sungai. Sesampainye di muara sungai arah ke laut, Megat Kuning membelokkan sampannye kearah kiri yakni kearah timur. Die terus berkayuh sehingge die ahirnye dapat lagi menjumpai sebuah muare sungai lainnye.
Berkayuhlah Megat Kuning menuju ke hulu sungai itu. Dilihatnye baik-baik keadaan sungai itu. Menurutnye ternyate sungai kedue yang dimasukinye memiliki kondisi geografi yang lebih baik lagi dari pade sungai yang pertame yang sudah ditandainye itu. Oleh karene itu, sungai itu disebut dengan “Baik”. Entah bile mase kate “baik” itu berubah menjadi “daik” tidaklah dapat ditelusuri secare seksame oleh masyarakat setempat.
Demikianlah
cerita ini dibuat. Semoga para pembaca terhibur , juga dapat mengambil beberapa
hikmah yang terkandung didalamnya dan menarik sebuah kesimpulan. Serta para
pembaca dapat meneruskan cerita ini kepada anak cucu agar Cerita Rakyat Melayu
Lingga ini tidak hilang bak ditelan bumi.
Gunung Daik yang Penuh Misteri
Gunong
Daek bercabang tige
Patah
satu tinggal due
Orang
Daik mengade-ade
Macam
orang nak dengan die
Pantun diatas adalah pantun senda
gurau yang sering dimadahkan oleh para remaja zaman dahulu untuk mengungkapkan
perasaan penolakan mereka terhadap lawan jenis yang sedang jatuh cinta. Gunung
Daik memang menjadi sumber dalam pembuatan pantun. Ini salah satu contoh pantun
yang sangat terkenal dikalangan masyarakat Melayu.
Pulau
Pandan jauh ke tengah
Gunung
Daik bercabang tiga
Budi
baik dikenang jua
Gunung
Daik terletak di pulau Lingga, Kabupaten Lingga, Propinsi Kepulauan Riau, Indonesia, dengan ciri khasnya
yaitu mempunyai 3 cabang dan berketinggian 1.165 mdpl. Cabang tertinggi disebut Gunong Daik, Cabang Menengah disebut Pejantan atau Pinjam Pinjaman, Cabang terendah disebut Cindai Menangis dan merupakan gunung
tertinggi di Kepulauan Riau. Gunung ini merupakan gunung mati yang ditumbuhi
pepohonan yang tampak kehijauan jika dilihat dari kejauhan.
Karena keunikan yang dipunyai oleh
gunung ini telah banyak mengundang minat para pendaki gunung untuk mencoba
tantangan untuk mendaki puncak gunung Daik ini, baik yang berasal dari dalam
negeri maupun dari luar negeri. Salah satunya pendakian oleh kelompok CUMFIRE pada awal Oktober 2008. Walaupun demikian belum ada yang
mampu untuk mencapai puncak gunung ini karena kondisi puncak yang terjal dan
bebatuan yang rapuh, selain itu masih banyak misteri yang tersimpan di gunung
Daik ini. Sudah diketahui umum bahwa di gunung tersebut banyak dihuni oleh orang bunian.
Konon dahulu kala orang bunian yang
tinggal di gunung Daik sering berbaur dengan masyarakat kampung sekitar,
terutama pada saat ada pesta perkawinan. Bahkan kalau berhajat dalam
pesta perkawinan tersebut banyak masyarakat yang meminjam berbagai peralatan
mulai dari perhiasan emas dan perak sampai peralatan masak dan pelaminan, tentu
saja melalui ritual tertentu. Namun karena ada sebagian masyarakat yang tidak
mengembalikan sebagian barang yang dipinjam tersebut telah membuat murka orang
bunian dan sejak itu hubungan baik antara orang bunian
dengan masyarakat mulai renggang.
Wallahu’alam.
Terlepas dari itu semua, gunung Daik
mempunyai daya tarik tersendiri yang mempunyai 3 cabang, vegetasi
yang tumbuh menghijau, berbagai jenis burung dan satwa lain yang menghuninya,
serta keindahan air terjun yang dipunyai sungguh suatu tantangan baru untuk
dicoba.
TARI ZAPIN
Tarian Zapin
Tari
zapin mulanya berasal dari tanah arab yaitu yaman dimana tarian zapin tersebut
digunakan sebagai hiburan dikalangan istana khusuhnya di negeri parsi tarian
zapin itu berasal. Kemudian dibawa dari Hadramaut, oleh
saudagar arab pada awal abad ke-16 dan masuk ke Johor Lingga, 1824
tumbuh dan berkembang pada kerajaan Johor, Riau, dan Lingga. Barulah
tari zapin merebak ke sekitar daerah melayu seperti Malaysia, Singapura,
Indonesia dan Brunei Darussalam.
Perkembangan
tari zapin identik dengan budaya melayu maupun dengan hal berpantun. Seniman dan
budayawan mampu membuat seni tradisinya. Tidak mandek tapi penuh dinamika yang
selalu dapat diterima dalam setiap keadaan. Makanya tari zapin masih eksis
sampai saat ini. Bagaimanapun juga walaupun tari zapin masih eksis sampai
sekarang tentunya ada daerah yang membuat tari zapin itu lebih berkembang
dikalangan masyarakatnya. Tari zapin pada saat sekarang ini lebih berkembang di
daerah pesisir pantai atau daerah kepulauan.
Tari
zapin tumbuh dan berkembang didaerah melayu seperti daerah Brunei, Malaysia,
singapura, dan Indonesia. Di Indonesia khususnya daerah yang ada suku melayu
nya seperti Jakarta(betawi), Sumatera Utara, Jambi, Sumatera Selatan, Sumatera
Barat(Minang Kabau), Lampung, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Dan
Bengkulu. Dan Khususnya didaerah Riau Tari zapin berkembang di
daerah Siak Sri Indrapura, Bengkalis, Pelalawan dan disetiap daerah yang
terdapat perbedaan latar belakang.
Tari
zapin merupakan salah satu tari tradisi khususnya di Riau. Dimana tari zapin
tradisi penarinya hanya ditarikan oleh para lelaki tetapi pada saat sekarang
ini tari zapin sudah berembang dimana tari zapin sekarang sudah mengalami
perubahan dan perkembangannya di setiap gerakannya. Tari zapin tradisi pada
zaman dahulu kala yang hanya dilakukan oleh para penari lelaki akan mengangkat
status sosialnya pada masyarakat dan selalu menjadi incaran oleh para orang tua
untuk dijodohkan kepada anaknya.
Tari zapin diciptakan berdasarkan unsur sosial
masyarakat pendukungnya, bukan hanya semata-mata sebagai uangkapan ekspresi,
tetapi merupakan wajah batiniah dan ekspresi cultural masyarakat yang
melahirkan. Tarian ini lahir dilingkungan masyarakat melayu riau yang sarat
dengan berbagai tata nilai.
Kostum dan tata rias para penari saat akan menarikan
tari zapin adalah:
==> Laki-Laki
Baju Kurung Cekak Musang Dan Seluar
Baju Kurung Cekak Musang Dan Seluar
Kain Samping(Songket,Plekat)
Kopiah
Bros
Kopiah
Bros
==> Perempuan
Baju Kurung Labuh
Kain Songket
Kain Samping
Selendang/Tudung Manto
Anting-Anting
Anting-Anting
Kembang Goyang
Rantai/Kalung
Sanggul(Biasa, Lipat Pandan, Conget, DLL)
Rantai/Kalung
Sanggul(Biasa, Lipat Pandan, Conget, DLL)
Gerakan tari zapin yang terdalat dalam tari zapin
tradisi adalah :
1.
|
Alif Sembah
|
11.
|
Geliat
|
21.
|
Minta Tahto
|
2.
|
Alif Satu
|
12.
|
Mata Angin
|
22.
|
Langkah Biasa
|
3.
|
Langkah Biasa
|
13.
|
Langkah Biasa
|
23.
|
Tahto
|
4.
|
Pusing Tengah
|
14.
|
Pecah Delapn Sud
|
||
5.
|
Anak Ayam Patah
|
15.
|
Sud Maju Mundur
|
||
6.
|
Langkah Biasa
|
16.
|
Langkah Biasa
|
||
7.
|
Sud Depan
|
17.
|
Nyambar
|
||
8.
|
Siku Keluang Berbalas
|
18.
|
Langkah Biasa
|
||
9.
|
Pecah Delapan Pusing
|
18.
|
Siku Keluang
|
||
10.
|
Langkah Biasa
|
20.
|
Bunga Alif
|
Orang melayu iringan music melayu
seperti alunan music arab makanya Alat musik yang digunakan dalam mengiringi
tarian zapin tersebut adalah Gambus dan Marwas
sebagai alat yang utama didalam musik pengiring tari zapin. Gambus adalah alat
musik tradisional melayu yang terbuat dari phong untuk menghasilkan nada.
Gambus dimainkan hampir sama dengan memainkan gitar yaitu dipetik. Sedangkan
marwas merupakan alat music tabuh yang berbentuk gendang kecil, namun
sering kali music pengiring zapin juga lengkap dengan alunan suara seruling,
rebana, tar, serta biola. Ada juga yang menggunakan alat music seperti gendang,
akordion sebagai alat pengiring tari zapin tersebut. Orang siak menggunakan
view, gambus dan marwas sebagai alat pengiring tari zapin didaerahnya.
Tari
zapin mempunyai tiga tingkatan dalam setiap gerakannya yaitu ;
==>
Pemberian Salam(Pembuka)
==> Gerak Inti
==> Gerak Inti
==>
Penutup(Tahto)
Tari zapin itu sendiri terbagi pula menjadi 2 bagian yaitu:
==> Tari Zapin Arab
==> Tari Zapin Melayu
Musik
melayu itu sendiri alunan musiknya mendapat pengaruh dari bangsa Arab, India,
Persia, China, Dan Portugis.
Tari zapin merupakan tari klasik yang berada didalam kawasan melayu karena tari klasik ini adalah sebuah tari yang memiliki kaidah-kaidah dan aturan-aturan yang tiifak boleh diubah-ubah. Tari zapin pada zaman dahulu dinarikan diatas tikar madani, tikar madani tersebut tidak boleh bergoyang atau bergeser sedikitpun sewaktu menarikan tari zapin tersebut.
-
Tari zapin melayu
a. Unsur-unsur tari dalam tari zapin
Ada dua unsur yang
paling penting dalam tari zapin yaitu gerak dan ritme. Gerak merupakan media
utama untuk mengungkapkan ekspresi. Seluruh pengalaman kehidupan, peristiwa
sejarah, keadaan alam merupakan sumber terjadinya gerak dalam tari. Desain yang
berada diatas lantai yang dapat terligat oleh penonton, yang tampak terlukis
pada ruang yang berda diatas lantai. Desain tersebut adalah datar, dalam,
vertical, horizontal, kontras, lurus, lengkung, bersudut, tinggi, rendah,
simetris, serta asimetris.
Didaerah kabupaten bengkalis tari zapin memiliki gerak sebagai berikut :
|
|
a.
Desain musik, tari zapin di Kabupaten Bengkalis ini terbentuk oleh seperangkat
instrument alat musik tradisi yang terdiri dari gambus, marwas, dan vokal.
b.
Desain dramatic suatu garapan tari yang utuh ibarat sebuah cerita pembuka, klimaks, dan penutup. Dari pembuka ke klimaks dmengalami perkembangan dan klimaks ke penutup terdapat penurunan. Begitu pula halnya dengan tari zapin, desain dramatiknya kerucut tunggal.
Desain dramatic suatu garapan tari yang utuh ibarat sebuah cerita pembuka, klimaks, dan penutup. Dari pembuka ke klimaks dmengalami perkembangan dan klimaks ke penutup terdapat penurunan. Begitu pula halnya dengan tari zapin, desain dramatiknya kerucut tunggal.
c.
Dinamika dalam tari zapin merupakan kekuatan dalam yang menyebabkan derak menjadi hidup. Dengan perkataan lain, dinamika dapat diibaratkan sebagai jiwa emosional daro gerak.
Dinamika dalam tari zapin merupakan kekuatan dalam yang menyebabkan derak menjadi hidup. Dengan perkataan lain, dinamika dapat diibaratkan sebagai jiwa emosional daro gerak.
d.
Tema menggarap tari, apa saja dapat menjadi tema. Dari kejadian sehari-hari, pengalaman hidup yang sangat sederhana, cerita rakyat, upacara agama, dan lain-lain dapat menjadi sumber tema.
Tema menggarap tari, apa saja dapat menjadi tema. Dari kejadian sehari-hari, pengalaman hidup yang sangat sederhana, cerita rakyat, upacara agama, dan lain-lain dapat menjadi sumber tema.
Memperhatikan tari
zapin, maka dapat dikatakan bahwa tari ini memiliki tema kehidupan sehari-hari,
yaitu tema kehidupan sehari-hari yang bermasyarakat dalam memenuhi kebutuhan
hidupnya.
e.
Ruas tari zapin sebagai salah daru bentuk tari tradisi yang sederhana, menggunakan rias yang masih sangat sederhana. Artinya rias dalam tari ini hanya rias cantik.
Ruas tari zapin sebagai salah daru bentuk tari tradisi yang sederhana, menggunakan rias yang masih sangat sederhana. Artinya rias dalam tari ini hanya rias cantik.
f.
Kostum tari tradisi yang hidup dalam lingkungan masyarakatnya, pada umumnya masih menggunakan kostum tradisi yang berlaku dalam kehidupan masyarakat itu sendiri. Begitu pula dengan tari zapin, kostum yang dipakai tidak digarap khusus untuk tari tersebut.
Kostum tari tradisi yang hidup dalam lingkungan masyarakatnya, pada umumnya masih menggunakan kostum tradisi yang berlaku dalam kehidupan masyarakat itu sendiri. Begitu pula dengan tari zapin, kostum yang dipakai tidak digarap khusus untuk tari tersebut.
Kostum dan rias dalam tari zapin ;
Laki-laki
|
Wanita
|
Bisa
juga menyebutkan unsur-unsur gerakan tari zapin dengan mengklasifikasikan
sebagai berikut desain lantai, desain atas, desain musik, desain dramatic,
dinamika, tema, rias, kostum, serta pementasan/ pertunjukan.
Secara
umum bentuk gerak zapin tidak terlepas dari 3 unsur-unsur gerak yaitu :
==>
Ruang
b ==> Waktu
c ==> Tenaga
Fungsi
tari zapin dalam kehidupan sehari-hari :
. a)
Sarana upaca perkawinan
b b)
Sarana ungkapan kegembiraan
c c)
Pergaulan
d d)
Hiburan
e e) Acara penyambutan tamu
f. f)
Acara hari besar keagamaan
Fungsi
tari dalam masyarakat juga mengacu kepada teori yang dinyatakan oleh soedarsono
“Tari
yang sejak lama menjadi kehidupan manusia purba mempunyai peran yang sangat
penting, baik sebagai sarana upacara keagamaan maupun sebagai saluran-saluran
untuk mengekspresikan perasaan gembira, meskipun masih dalam bentuk yang sangat
sederhana”.(1978:17)
Menurut
G.P. Kurath menjelaskan ada 14 macam fungsi tari dalam masyarakat yaitu :
1.
Untuk upacara pubertas
2.
Upacara inisasi
3.
Percintaan
4.
Persahabatan
5.
Upacara perkawinan
6.
Pekerjaan
7.
Upacara kesuburan
8.
Perbintangan
9.
Upacara perburuan
10.
Lawakan
11.
Perang
12.
Upacara pengobatan
13.
Upacara kematian
14.
Sebagai tontonan(Soedarsono, 1985 : 16)
a. Lagu Zapin (Lancang Kuning)
Lancang Kuning Lancang Kuning
Berlayar malam hai berlayar malam
Lancing kuning lancang kuning
Berlayar malam berlayar malam
Haluan menuju haluan menuju kelaut
dalam
Haluan menuju haluan menuju kelaut
dalam
Lancang kuning lancang kuning
Lancang kuning lancang kuning
Kalau nahkoda kalau nahkoda
Kuranglah paham hai Kuranglah paham
Kalau nahkoda kalau nahkoda
Kuranglah paham hai kuranglah paham
Alamatlah kapal alamatlah kapal akan
tenggelam
Alamatlah kapal alamatlah kapal akan
tenggelam
Lancang kuning berlayar malam
Lancang kuning berlayar malam
b. Nilai
estetika dalam kostum tari zapin
Kostum
atau busana tari zapin secafra tradisi memakai pakaian melayu. Pakaian ini amat
banyak variasinya, karena dilatar belakangi oleh masyarakat dan kebudayaan
melayu yang majemuk. Kemajemukan ini terwujud melalui kontak-kontak budaya
tempatan dengan budaya luar yang berlangsung dalam kurun waktu yang cukup lama.
Pakaian yang digunakan zapin yang bernuansa islamiah itu lah yang menimbulkan
nilai estetika yang tinggi sebab pakaiannya saja sudah menimbulkan suatu norma
kesopanan didalam berpakaian. Dan dengan cara berpakaian itu saja sudah menjadi
acuan dalam masyarakat dan menjadi aturan khusus serta berpakaiannya sejalan
dengan adat istiadat yang berlaku.
Fungsi penataan busana itu adalah:
a (*)
Menutupi tubuh penari
b
(*) Memperjelas garis-garis ruang gerak penari
c (*) Mendukung ungkapan suasana tari
d
(*) Mempertegas identitas tari
e (*) Tidak mengganggu gerak penari.
Didalam karangan buku Prof. Dr. R. M. Soedarsono yang berjudul Performance of Art In Indonesian at Globalization Era (Seni Pertunjukan Di Indonesia Di Era Globalisasi) Soedarsono mengungkapkan bahwa kata zapin itu Berasal dari kata Zaffa(Menuntun Pengantin wanita menuju perkawinan), Zafah(perkawinan), serta Zafana(tari yang dipersembahkan pada upacara perkawinan). Dan tari ini tidak begitu formal dan dilakukan secara berpasang-pasangan dengan mengutamakan langkah kaki.
Teater Bangsawan
Konon, kesenian yang
bernama Bangsawan ini pada masa lalu bernama Wayang Parsi. Menurut Ediruslan
dan Hasan Junus (t.t), kedatangan rombongan seniman wayang parsi ke Pulau
Penang (1870) bukanlah dari Persia (Iran), melainkan dari orang-orang Majusi
yang melarikan diri ke India karena tidak mau di-Islam-kan. Keturunan
orang-orang Majusi yang banyak bermukim di Mumbay inilah yang akhirnya membawa
wayang parsi ke Pulau Penang. Dari Penang, wayang parsi kemudian menyebar ke
seluruh semenanjung Malaysia, dan juga ke kesultanan-kesultanan Melayu di
Sumatera Utara, Riau, dan Kalimantan Barat.
Wayang
parsi yang telah berubah menjadi Bangsawan diperkirakan masuk Penyengat tahun
1906. Dari Pulau Penyengat, akhirnya menyebar pula ke berbagai daerah di
wilayah Kepulauan Riau. Walaupun demikian, kesenian ini tidak tumbuh subur di
Penyengat, tetapi justeru di tempat lain, seperti Daik-Lingga dan Dabo-Singkep.
Malahan, sekarang seolah-olah yang “memilikinya” adalah kedua masyarakat
tersebut. Indikator ini terlihat dari setiap kali ada penampilan Bangsawan,
terutama di ibukota Propinsi (Tanjungpinang), kalau tidak Bangsawan dari
Dabo-Singkep, adalah dari Daik-Lingga. Oleh karena itu, setiap orang jika
mendengar kata Bangsawan, maka seringkali yang terbayang dalam benaknya adalah
dari kedua daerah tersebut.
Penamaan
Bangsawan itu sendiri, untuk pertama kalinya, konon diberikan oleh Abu Muhammad
Adnan, yang sering disebut juga dengan Mamak Phusi, kepada perkumpulan yang
didirikannya. Lengkapnya adalah Phusi Indra Bangsawan of Penang. Jenis seni
pertunjukan tradisional yang berupa komedi stambul dengan ceritera seputar
kehidupan istana ini juga dikenal dengan nama Wayang Bangsawan atau Indra
Bangsawan.
Ketika
seni pertunjukan ini sedang berlangsung, maka lagu-lagu yang mengiringinya,
disamping lagu-lagu yang sering dinyanyikan dalam joged atau tarian Zapin,
adalah lagu-lagu Stambul Dua, Stambul Opera, dan Dondang Sayang. Sedangkan,
ceritera yang dimainkan antara lain: 1001 Malam, Rakyat Melayu, Dongeng India
dan Cina, dan Hikayat Melayu. Setiap ceritera terbagi dalam beberapa babak atau
adegan. Dan, setiap adegan diselingi dengan sret atau selang waktu untuk
menceriterakan apa yang akan terjadi pada adegan berikutnya. Jadi, semacam
pengantar agar para penonton mengetahui apa yang akan disajikan adegan
berikutnya.
Para
tokoh pemainnya terdiri atas: Sri Panggung (diperankan oleh pemain yang
tercantik yang akan menjadi primadona panggung), anak muda, raja, permaisuri,
menteri, hulubalang, saudagar-saudagar, inang-dayang, dan pelawak yang oleh
masyarakat setempat sering disebut sebagai Khadam. Bahasa yang dipergunakan
adalah Melayu dengan dialek Riau-Kepulauan, dengan tata cara istana atau
bangsawan. Berikut ini adalah penggalan dialog antara Dayang dan Hadang dalam
sebuah pementasan Bangsawan.
Dayang: “Manelah
Panglime Hadang nih? Sudah bermain-main di taman tak ade. Sebentar lagi kalau
Tuan Puteri sudah datang kemari pasti akan murke kalau melihat Panglime Hadang
tak ade. Bencilah same die. Pak Hadang, Pak Hadang, o…Pak Hadang. Kemane aje
wak nih?”
Hadang: “Lagi sibuk
betul aku, patik…e salah, e…sesat. Jalan-jalan ke taman larangan nih,
nyari-nyari jelutung. Untunglah ada Mak Inang di belakang nunjuk sane
tu…tu..hah…baru sampai”.
Pesan yang ingin
disampaikan dalam berbagai cerita yang disuguhkan adalah seorang raja akan
dihargai oleh rakyatnya apabila bijaksana, sebagaimana ungkapan yang tidak
asing lagi bagi masyarakat Melayu, yaitu: Raja adil raja disembah, raja lalim
raja disanggah dan Hukum adil kepada rakyat, tanda raja beroleh inayat.
Pemain
(pelakon) seni pertunjukan ini terdiri atas: Sri Panggung dan anak muda yang
merupakan tokoh utama, raja, seorang khadam, dan beberapa peran pembantu raja,
menteri, hulubalang, inang-dayang, dan pengukuh lakon lainnya. Jadi, jumlahnya
jika ditambah dengan pemain musik kurang lebih 20 sampai dengan 25 orang.
Durasi
pementasannya bergantung pada ceritera dan waktu yang tersedia. Sedangkan waktu
pementasannya pada malam hari. Pada mulanya seni pertunjukan ini tampil dalam
rangka mengisi acara-acara upacara lingkaran hidup individu (khitanan dan
perkawinan), hari-hari besar agama Islam, dan hari-hari nasional seperti
peringatan hari kemerdekaan Indonesia, serta peringatan-peringatan lainnya.
Namun, dewasa ini hanya terbatas pada hari kemerdekaan saja, itu pun tidak
selalu. Dengan kata lain, bergantung pada pemerintah daerah setempat, baik di
kecamatan, kabupaten, maupun propinsi.
Berbeda
dengan seni pertunjukan modern, seni pertunjukan ini tidak memerlukan
sutradara, walaupun setiap group mempunyai seorang pemimpin. Satu hal yang
mesti ada (terbuat) adalah tempat para pemain berlaga (panggung). Panggung
sebuah pementasan yang disebut sebagai Bangsawan ini dilengkapi dengan layar
berlapis yang disebut dengan layar stret. Layar-layar tersebut dibubuhi dengan
lukisan istana, taman, hutan (pemandangan alam) dan lain sebagainya. Maksudnya
untuk menggambarkan situasi dan kondisi di mana sebuah dialog atau perseteruan
terjadi. Jadi, jika suatu peristiwa terjadi di istana, maka layar yang
ditampilkan adalah yang berlukisan istana, dan seterusnya.
Seni
pertunjukan yang disebut sebagai Bangsawan ini adalah kesenian yang
menggabungkan musik, lagu, tari dan laga. Peralatan musik yang mengiringi
pementasannya terdiri atas: biola, akordion, gendang, gong dan tambur. Sesuai
dengan namanya, yaitu Bangsawan, kostum yang digunakan adalah tata rias yang
menyerupai orang-orang di kalangan Bangsawan. Sedangkan, perlengkapan
pendukungnya menyesuaikan dengan ceritera yang ditampilkan, karena patokan yang
khusus tidak ada.
Adapun
urut-urutan pementasannya adalah sebagai berikut: (1) pentas dibuka dengan
lagu-lagu dan tarian pembuka yang mengisahkan ceritera yang akan dimainkan.
Sebagai catatan, setiap kelompok biasanya mempunyai lagu pembuka tersendiri
yang sekaligus menjadi ciri khasnya; (2) peralihan dari satu adegan ke adegan
berikutnya diikuti dengan pergantian layar; terkadang diselingi dengan lagu
atau nyanyian yang berisi ceritera yang akan dimainkan pada adegan berikutnya;
dan (3) pentas ditutup dengan lagu dan tarian penutup.
MASJID SULTAN DAIK LINGGA
Sejarah kerajaan Lingga masih dapat kita temukan di pulau Daik Lingga. Walaupun tidak dapat secara langsung merasakan masa-masa kejayaan Kerajaan Lingga, masih banyak peninggalan-peninggalan yang ada yang dapat kita saksikan secara langsung di pulau Daik Lingga. Mulai dari peninggalan Mesjid Sultan yang sampai sekarang masih digunakan sebagai tempat ibadah oleh masyarakat Daik, sampai kepada situs-situs yang masih meninggalnya jejak-jejak bangunan tua yang sampai sekarang masih tetap di jaga oleh pemerintah dan masyarakat setempat.
Masjid
ini didirikan oleh Sultan Mahmud Syah III di pusat kota Daik Lingga pada awal
tahun 1801. Pada mulanya masjid ini menampung 40 orang, bersamaan di
perbaharuinya masjid Sultan Riau di Penyengat, tempat bernastautinnya kedudukan
YAMTUAN MUDA dan permaisuri pertamanya ENGKU HAMIDAH. Masjid Jamik Sultan
Lingga inipun diganti dengan bangunan beton yang dibangun tanpa tiang tengah
sebagai penyangga dan dapat memuat 400 orang jemaah.
Beberapa momentum berhasil saya
dokumentasikan lewat kamera walaupun kualitas gambar sedikit kurang bagus.
Berikut beberapa gambar yang berhasil saya ambil dengan kamera saya :
Makam merah
Terletak ±800m dari Situs Istana Damnah. Disebut juga Makam Merah karena dari
awalnya berwarna merah. Makam Yang Tuan Muda ke-10 Riau Raja Muhammad Yusuf
Al-Ahmadi, beliau adalah Yamtuan Muda Riau yang terakhir.
Bilik 44
Fondasi bangunan ini
direncanakan oleh Sultan Muhammad Syah (1832-1841)
dan dibangun pada masa pemerintahan
Sultan Mahmud Syah
Muzzafar (1832-1857) direncanakan sebagai tempat tinggal keluarga sultan atau
sumber lain sebagai tempat untuk
menyimpan berbagai jenis kerajinan.
Ukuran Bilik 44 sekitar 48X49 meter dan jumlah kamar yang baru disiapkan sebanyak 32 buah. Kamar ini tidak dapat selesai karena Sultan Mahmud Syah Muzzafar itu discanded dari tahta Kesultanan Riau Lingga pada 23 September 1857.
makam bukit cengkeh
Makam
Terletak di Bukit Cengkeh, Jl.
Sultan Abdurrahman, berjarak sekitar 25 meter sebelah barat aliran Sungai
Tanda. Pintu gerbangnya terbuat dari besi berukuran tinggi sekitar 2 meter dan
terletak di sisi tenggara. Di bagian tengah kompleks makam terdapat bangunan
berdenah persegi delapan (oktagonal) yang merupakan cungkup makam Sultan
Muhammad Syah.
Ada 3 (tiga) Sultan yang dimakamkan di Bukit Cengkeh, yaitu:
1. Sultan Abdurrahman Syah
Putra Sultan Mahmudsyah III ini merupakan Sultan
Johor–Pahang–Riau Lingga XVII (1812-1824) dan Sultan Lingga Riau yang pertama
(1824-1832). Mangkat di Daik Lingga pada malam Senin 12 Rabiul Awal 1240 H
(1832 M) dan bergelar “Marhum Bukit Cengkeh” . Selain dikenal sangat alim dan
giat menyebarkan agama Islam, Sultan juga membangun benteng Kuala Daik, Benteng
di Bukit Cening dan Benteng di Pulau Mepar.
Sultan Lingga Riau yang ke-dua ini memerintah
dari tahun 1832-1841. Selain membangun Bilik 44 dan Istana Kedaton (Keraton),
Baginda Sultan dikenal mencintai bidang seni, seperti seni ukir, tenun dan
kerajinan. Mangkat di Daik Lingga pada tanggal 9 Januari 1841 dan diberi
digelar “Marhum Kedaton/Keraton”.
3. Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah II
Putra
ke-dua Sultan Abdurrahmansyah atau adik dari Sultan Muhammadsyah diangkat
menjadi Sultan Lingga Riau IV di Daik (1857-1883). Mangkat pada tahun 1883 dan
dimakamkan di Bukit Cengkeh. Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah II dikenal sebagai
Sultan yang sangat memperhatikan perekonomian rakyat dan kerajaan seperti
menggalakkan penanaman sagu dan gambir, memperkenalkan industri sagu, membangun
sarana transportasi seperti kapal Sri Lanjut, Betara Bayu, Lelarum, dan
Gempita, mengembangkan penambangan timah di Singkep dan membangun sekolah (kini
SD Negeri 001 Daik) yang dibangun pada tahun 1875, serta membangun Istana
Damnah (1860). Pada masa ini Lingga mengalami perkembangan perdagangan yang
sangat pesat dan jumlah penduduk dari berbagai etnis yang bertempat tinggal di Daik saja sekitar 20.000 jiwa.
benteng bukit ceneng
Meriam
Benteng berukuran 32 m X 30 m
ini terletak di Bukit Cening Kampung Seranggung, Dibangun pada masa
pemerintahan Sultan Mahmud Syah III (1761-1812). Di dalam benteng terdapat 19
buah meriam, dua diantaranya bertuliskan angka 1783 dan 1797 serta VOC. Meriam
terpanjang berukuran panjang 2,80 m dan berdiameter 12 cm, disebut juga dengan
Meriam Tupai Beradu yang diapit kiri-kanan dengan meriam Mahkota Raja.
BEKAS
ISTANA DAMNAH
Tangge Bekas Istane Damnah
Istana Damnah didirikan oleh Raja Muhammad Yusuf AI-Ahmadi, Yang Dipertuan
Muda Riau X (1857-1899). Dalam tahun 1860 olehnya didirikan istana Damnah untuk
kediaman Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah II, dimana sebelumnya Sultan ini di
Istana Kota Baru tak berjauhan dari pabrik sagu yang didirikannya.
Reflika Istana Damnah
PINTU
GERBANG (MALAM 7 LIKUR)
Pintu Gerbang
Tradisi malam tujuh likur menjelang beberapa hari
tibanya saat yang dinantikan umat muslim khususnya di bumi bunda tanah melayu
untuk merayakan Idul Fitri sudah mulai terasa dan hikmat. Nyala lampu yang
terbuat dari berbagai kaleng minuman bekas dengan berbahan bakar minyak tanah
atau solar dipasang sepanjang jalan membentuk barisan yang indah ditambah
dengan kemegahan pintu-pintu gerbang saat memasuki kawasan suatu RT, RW atau
Desa yang kita masuki.
Berbagai ornamen berbentuk indah dengan desain
dan pola membentuk kaligrafi menghiasi gerbang-gerbang yang dibuat
masyarakat dan pemuda tempatan secara gotong royong. Dari jauh terlihat seperti
lampu neon yang terpasang dengan sengaja. Hal ini mengundang masyarakat
berduyun-duyun datang bersama putra-putri merkea selepas sembahyang tarawih
dengan menggunakan kendaraan roda dua atau empat menyaksikan gerbang mana yang
menjadi idola.
Pantai Dungun di Daik
Gajah Mine
Dungun Beach Pantai ini
terletak di desa Teluk Kecamatan Lingga Utara. Di pantai inilah terdapat satwa
laut langka yang ditemukan masyarakat terdampar mati pada tanggal 13 Januari
2005. Masyarakat tempatan (lokal) menamainya GAJAH MINA, namun nama
ilmiahnya sedang dalam proses identifikasi oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia (LIPI) Jakarta. Seluruh tulang belulang satwa laut ini dikumpulkan
oleh keluarga Bapak Umar Sanen (Pak Cenot) yang kemudian diserahkan ke Museum
Mini Linggam Cahaya pada tanggal 6 Januari 2006.
Data dasar:
- PANJANG PANGKAL EKOR–KEPALA: 12.40 METER
- PANJANG PANGKAL EKOR–UJUNG EKOR: 1.80 METER
- PANJANG GADING/TARING: 2.40 METER
- TEBAL KULIT: 10 CM
- PANJANG SIRIP (BAWAH): 78 CM
- LEBAR SIRIP (BAWAH): 47 CM
Pemandian Tengku Ampuan
Zahara/Lubuk Pelawan di Daik
Adalah tempat pemandian putri
Diraja Sultan Mahmud Muhazam Syah, Engku Embong Fatimah istri Yamtuan Muda
Muhammad Yusuf Bunda dari Sultan Lingga yang terakhir Sultan Abdul Rahman
Mu’ahan Syah Sultan Lingga yang ke 6 dan istrinya Engku Ampuan Zahara.
Air terjun Resun
terletak di Daik, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau Indonesia. Airnya berasal
dari sungai-sungai yang mengairi Gunung Daik dan banyak dikunjungi wisatawan
lokal saat hari libur.
PULAU BERHALA
PULAU Berhala memiliki panaroma pantai pasir putih dan
batuan vulkanik yang sangat indah dengan lokasi yang sangat dekat dengan daerah
penyangga Taman Nasional Berbak. Pulau yang luasnya kurang lebih 10 km persegi
ini pada bagian barat mempunyai pantai yang landai dan pada bagian Timur
mempunyai tebing-tebing batu karang yang cukup curam. Dalam keadaan laut surut
pulau berhala dapat dikelilingi dengan berjalan kaki dalam waktu 6 jam.
Pulau ini dihuni oleh 9 Kepala Keluarga
yang berasal dari Suku Melayu Riau dengan mata pencarian sebagai nelayan.
Seluruh bukit yang mempunyai ketinggian sekitar 2.000 meter. terdapat pada
bagian tengah pulau dan disini ditemui dua buah peninggalan sejarah dan budaya,
diantaranya Makam Datuk Paduko Berhalo.
Beberapa Koleksi Fhoto Wisata Lingga :
1. Air Terjun Tande di Daik
2. Air Terjun Cik Latif di Dabo
3. Air Terjun Reson di Daik
4. Pemandian Air Panas di Dabo
5. Pemandian Batu Ampar di Dabo
6. Batu Babi di Serteh Daik
7. Batu Belah di Daik
8. Batu Buaya di Serteh Daik
9. Kelong Tradisional
10. Pantai Pasir Panjang di Daik
11. Pulau Pena'ah Kec. Senayang
12. Pulau Bukit Kec. Senayang
14. Pulau Tiga
Demikianlah yang dapat saye buat tentang kampung halaman saye "Daek" di :
Blognye



































1 komentar:
Mantav,,,,
Posting Komentar