Kamis, 04 Oktober 2012

SEJARAH SILAM DAIK




Menelusuri Sejarah Daik-Lingga Riau Kepulauan



Gunung Daek bercabang tige 
Nampak tersenyom dari Selat Melake
Adat resam dan nilai budaye 
Pusake yang haros kite bine bersame
Pulau Pandan jaoh ditengah
Gunong Daek becabang tige
Hancor badan dikandong tanah
Budi baek dikenang jue


Asal mule kate"DAIK" (Lingga)


Orang pertame yang menjejakkan kaki dipulau tempat terdapatnye Gunong Daik adalah Megat Kuning. Katenye die berasal dari Melake. Konon kabarnye, Megat Kuning merupakan anak cucu Megat Seri Rama. Tujuannye berkelane itu, gune mencari kawasan baru untuk menyebarluaskan pengaruh keturunannye di Melake.

Berkayuhlah die sendiri di arah selatan gunong yang bercabang tige itu. Dari hilir die menelusuri hingge ke hulu pulau itu (di bagian selatan Pulau Lingge, air surut laut mengalir dari arah barat ke timur Pulau Lingge dan sebaliknye pade saat air laot pasang, arusnye bergerak dari timur kearah barat Pulau Lingge). Dikawasan yang berbatu terjal, dari arah barat menyusuri timur, die menjumpai muare sungai. Dengan menggunakan sampan. Die menyusuri sungai menuju kearah hulu. Pade kejauhan tertentu, die tibe pade Kampong Tande saat ini. Megat Kuning memberi tande pade sungai itu. Tande itu dilakukan dengan care menetak atau menarah bagian pangkal batang kayu yang tumbuh dikiri dan kanan sungai itu. Dari sinilah name sungai yang dimasukinye itu diberi name yaitu Sungai Tande.

Setelah menande sungai itu, Megat Kuning kembali ke hilir sungai. Sesampainye di muara sungai arah ke laut, Megat Kuning membelokkan sampannye kearah kiri yakni kearah timur. Die terus berkayuh sehingge die ahirnye dapat lagi menjumpai sebuah muare sungai lainnye.

Berkayuhlah Megat Kuning menuju ke hulu sungai itu. Dilihatnye baik-baik keadaan sungai itu. Menurutnye ternyate sungai kedue yang dimasukinye memiliki kondisi geografi yang lebih baik lagi dari pade sungai yang pertame yang sudah ditandainye itu. Oleh karene itu, sungai itu disebut dengan “Baik”. Entah bile mase kate “baik” itu berubah menjadi “daik” tidaklah dapat ditelusuri secare seksame oleh masyarakat setempat.

Demikianlah cerita ini dibuat. Semoga para pembaca terhibur , juga dapat mengambil beberapa hikmah yang terkandung didalamnya dan menarik sebuah kesimpulan. Serta para pembaca dapat meneruskan cerita ini kepada anak cucu agar Cerita Rakyat Melayu Lingga ini tidak hilang bak ditelan bumi.  



Gunung Daik yang Penuh Misteri




Gunong Daek bercabang tige
Patah satu tinggal due
Orang Daik mengade-ade
Macam orang nak dengan die

Pantun diatas adalah pantun senda gurau yang sering dimadahkan oleh para remaja zaman dahulu untuk mengungkapkan perasaan penolakan mereka terhadap lawan jenis yang sedang jatuh cinta. Gunung Daik memang menjadi sumber dalam pembuatan pantun. Ini salah satu contoh pantun yang sangat terkenal dikalangan masyarakat Melayu.

Pulau Pandan jauh ke tengah
Gunung Daik bercabang tiga
Hancur badan dikandung tanah
Budi baik dikenang jua

Gunung Daik terletak di pulau Lingga, Kabupaten Lingga, Propinsi Kepulauan Riau, Indonesia, dengan ciri khasnya yaitu mempunyai 3 cabang dan berketinggian 1.165 mdpl. Cabang tertinggi disebut Gunong Daik, Cabang Menengah disebut Pejantan atau Pinjam Pinjaman, Cabang terendah disebut Cindai Menangis dan merupakan gunung tertinggi di Kepulauan Riau. Gunung ini merupakan gunung mati yang ditumbuhi pepohonan yang tampak kehijauan jika dilihat dari kejauhan.
Karena keunikan yang dipunyai oleh gunung ini telah banyak mengundang minat para pendaki gunung untuk mencoba tantangan untuk mendaki puncak gunung Daik ini, baik yang berasal dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Salah satunya pendakian oleh kelompok CUMFIRE pada awal Oktober 2008. Walaupun demikian belum ada yang mampu untuk mencapai puncak gunung ini karena kondisi puncak yang terjal dan bebatuan yang rapuh, selain itu masih banyak misteri yang tersimpan di gunung Daik ini. Sudah diketahui umum bahwa di gunung tersebut banyak dihuni oleh orang bunian.

Konon dahulu kala orang bunian yang tinggal di gunung Daik sering berbaur dengan masyarakat kampung sekitar, terutama pada saat ada pesta perkawinan. Bahkan kalau  berhajat dalam pesta perkawinan tersebut banyak masyarakat yang meminjam berbagai peralatan mulai dari perhiasan emas dan perak sampai peralatan masak dan pelaminan, tentu saja melalui ritual tertentu. Namun karena ada sebagian masyarakat yang tidak mengembalikan sebagian barang yang dipinjam tersebut telah membuat murka orang bunian dan sejak itu hubungan baik antara orang bunian
dengan masyarakat mulai renggang. Wallahu’alam.

Terlepas dari itu semua, gunung Daik  mempunyai daya tarik tersendiri  yang mempunyai 3 cabang, vegetasi yang tumbuh menghijau, berbagai jenis burung dan satwa lain yang menghuninya, serta keindahan air terjun yang dipunyai sungguh suatu tantangan baru untuk dicoba. 


TARI ZAPIN


Tarian Zapin

Tari zapin mulanya berasal dari tanah arab yaitu yaman dimana tarian zapin tersebut digunakan sebagai hiburan dikalangan istana khusuhnya di negeri parsi tarian zapin itu berasal. Kemudian dibawa dari Hadramaut, oleh saudagar arab pada awal abad ke-16 dan masuk ke Johor Lingga, 1824 tumbuh dan berkembang pada kerajaan Johor, Riau, dan Lingga. Barulah tari zapin merebak ke sekitar daerah melayu seperti Malaysia, Singapura, Indonesia dan Brunei Darussalam.
Perkembangan tari zapin identik dengan budaya melayu maupun dengan hal berpantun. Seniman dan budayawan mampu membuat seni tradisinya. Tidak mandek tapi penuh dinamika yang selalu dapat diterima dalam setiap keadaan. Makanya tari zapin masih eksis sampai saat ini. Bagaimanapun juga walaupun tari zapin masih eksis sampai  sekarang tentunya ada daerah yang membuat tari zapin itu lebih berkembang dikalangan masyarakatnya. Tari zapin pada saat sekarang ini lebih berkembang di daerah pesisir pantai atau daerah kepulauan.
Tari zapin tumbuh dan berkembang didaerah melayu seperti daerah Brunei, Malaysia, singapura, dan Indonesia. Di Indonesia khususnya daerah yang ada suku melayu nya seperti Jakarta(betawi), Sumatera Utara, Jambi, Sumatera Selatan, Sumatera Barat(Minang Kabau), Lampung, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Dan Bengkulu. Dan Khususnya didaerah Riau Tari zapin berkembang di daerah Siak Sri Indrapura, Bengkalis, Pelalawan dan disetiap daerah yang terdapat perbedaan latar belakang.
Tari zapin merupakan salah satu tari tradisi khususnya di Riau. Dimana tari zapin tradisi penarinya hanya ditarikan oleh para lelaki tetapi pada saat sekarang ini tari zapin sudah berembang dimana tari zapin sekarang sudah mengalami perubahan dan perkembangannya di setiap gerakannya. Tari zapin tradisi pada zaman dahulu kala yang hanya dilakukan oleh para penari lelaki akan mengangkat status sosialnya pada masyarakat dan selalu menjadi incaran oleh para orang tua untuk dijodohkan kepada anaknya.
Tari zapin diciptakan berdasarkan unsur sosial masyarakat pendukungnya, bukan hanya semata-mata sebagai uangkapan ekspresi, tetapi merupakan wajah batiniah dan ekspresi cultural masyarakat yang melahirkan. Tarian ini lahir dilingkungan masyarakat melayu riau yang sarat dengan berbagai tata nilai.

 
Kostum dan tata rias para penari saat akan menarikan tari zapin adalah:
==>  Laki-Laki
      Baju Kurung Cekak Musang Dan Seluar
      Kain Samping(Songket,Plekat)
      Kopiah
      Bros
==>  Perempuan
      Baju Kurung Labuh
      Kain Songket
      Kain Samping
      Selendang/Tudung Manto
      Anting-Anting
      Kembang Goyang
      Rantai/Kalung
      Sanggul(Biasa, Lipat Pandan, Conget, DLL) 



Gerakan tari zapin yang terdalat dalam tari zapin tradisi adalah :
1.
Alif Sembah
11.
Geliat
21.
Minta Tahto
2.
Alif Satu
12.
Mata Angin
22.
Langkah Biasa
3.
Langkah Biasa
13.
Langkah Biasa
23.
Tahto
4.
Pusing Tengah
14.
Pecah Delapn Sud


5.
Anak Ayam Patah
15.
Sud Maju Mundur


6.
Langkah Biasa
16.
Langkah Biasa


7.
Sud Depan
17.
Nyambar


8.
Siku Keluang Berbalas
18.
Langkah Biasa


9.
Pecah Delapan Pusing
18.
Siku Keluang


10.
Langkah Biasa
20.
Bunga Alif



            Orang melayu iringan music melayu seperti alunan music arab makanya Alat musik yang digunakan dalam mengiringi tarian zapin tersebut adalah Gambus dan Marwas sebagai alat yang utama didalam musik pengiring tari zapin. Gambus adalah alat musik tradisional melayu yang terbuat dari phong untuk menghasilkan nada. Gambus dimainkan hampir sama dengan memainkan gitar yaitu dipetik. Sedangkan marwas merupakan alat music  tabuh yang berbentuk gendang kecil, namun sering kali music pengiring zapin juga lengkap dengan alunan suara seruling, rebana, tar, serta biola. Ada juga yang menggunakan alat music seperti gendang, akordion sebagai alat pengiring tari zapin tersebut. Orang siak menggunakan view, gambus dan marwas sebagai alat pengiring tari zapin didaerahnya.

Tari zapin mempunyai tiga tingkatan dalam setiap gerakannya yaitu ;
==>  Pemberian Salam(Pembuka)
==>  Gerak Inti
==>  Penutup(Tahto)

            Tari zapin itu sendiri terbagi pula menjadi 2 bagian yaitu:
==>  Tari Zapin Arab
==>  Tari Zapin Melayu

Musik melayu itu sendiri alunan musiknya mendapat pengaruh dari bangsa Arab, India, Persia, China, Dan Portugis.

Tari zapin merupakan tari klasik yang berada didalam kawasan melayu karena tari klasik ini adalah sebuah tari yang memiliki kaidah-kaidah dan aturan-aturan yang tiifak boleh diubah-ubah. Tari zapin pada zaman dahulu dinarikan diatas tikar madani, tikar madani tersebut tidak boleh bergoyang atau bergeser sedikitpun sewaktu menarikan tari zapin tersebut.

- Tari zapin melayu
a. Unsur-unsur tari dalam tari zapin

Ada dua unsur yang paling penting dalam tari zapin yaitu gerak dan ritme. Gerak merupakan media utama untuk mengungkapkan ekspresi. Seluruh pengalaman kehidupan, peristiwa sejarah, keadaan alam merupakan sumber terjadinya gerak dalam tari. Desain yang berada diatas lantai yang dapat terligat oleh penonton, yang tampak terlukis pada ruang yang berda diatas lantai. Desain tersebut adalah datar, dalam, vertical, horizontal, kontras, lurus, lengkung, bersudut, tinggi, rendah, simetris, serta asimetris.
      Didaerah kabupaten bengkalis tari zapin memiliki gerak sebagai berikut :
  1. Gerak hormat pembukaan
  2. Gerak sembah
  3. Gerak alip biasa
  4. Gerak bunga alip
  5. Gerak pusing
  6. Gerak siku keluang
  7. Gerak sud mundur
  8. Gerak pecah delapan
  9. Gerak sud mundur
  10. Gerak pecah delapan
  1. Gerak geliat
  2. Gerak pusing jadi
  3. Gerak tongkah
  4. Gerak ayam patah
  5. Gerak seribut
  6. Gerakk pecah delapan sud
  7. Gerak minta tahto
  8. Gerak tahto
  9. Gerak sembah
 
a.       Desain musik, tari zapin di Kabupaten Bengkalis ini terbentuk oleh seperangkat instrument alat musik tradisi yang terdiri dari gambus, marwas, dan vokal.
b.       
          Desain dramatic suatu garapan tari yang utuh ibarat sebuah cerita pembuka, klimaks, dan penutup. Dari pembuka ke klimaks dmengalami perkembangan dan klimaks ke penutup terdapat penurunan. Begitu pula halnya dengan tari zapin, desain dramatiknya kerucut tunggal.
c.       
          Dinamika dalam tari zapin merupakan kekuatan dalam yang menyebabkan derak menjadi hidup. Dengan perkataan lain, dinamika dapat diibaratkan sebagai jiwa emosional daro gerak.
d.      
         Tema menggarap tari, apa saja dapat menjadi tema. Dari kejadian sehari-hari, pengalaman hidup yang sangat sederhana, cerita rakyat, upacara agama, dan lain-lain dapat menjadi sumber tema.
Memperhatikan tari zapin, maka dapat dikatakan bahwa tari ini memiliki tema kehidupan sehari-hari, yaitu tema kehidupan sehari-hari yang bermasyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
e.       
          Ruas tari zapin sebagai salah daru bentuk tari tradisi yang sederhana, menggunakan rias yang masih sangat sederhana. Artinya rias dalam tari ini hanya rias cantik.
f.       
         Kostum tari tradisi yang hidup dalam lingkungan masyarakatnya, pada umumnya masih menggunakan kostum tradisi yang berlaku dalam kehidupan masyarakat itu sendiri. Begitu pula dengan tari zapin, kostum yang dipakai tidak digarap khusus untuk tari tersebut.
   
    Kostum dan rias dalam tari zapin ;          

Laki-laki
  1. Baju kurung leher cekak musang dan seluar
  2. Kain samping(songket, plekat)
  3. Kopiah
  4. Bros
Wanita
  1. Baju kurung labuh
  2. Kain songket
  3. Kain samping
  4. Selendang/tudung manto
  5. Anting-anting
  6. Kembang goyang
  7. Rantai/kalung
  8. Sanggul(Biasa, lipat Pandan, conget, dan lain-lain)
 
Bisa juga menyebutkan unsur-unsur gerakan tari zapin dengan mengklasifikasikan sebagai berikut desain lantai, desain atas, desain musik, desain dramatic, dinamika, tema, rias, kostum, serta pementasan/ pertunjukan.

Secara umum bentuk gerak zapin tidak terlepas dari 3 unsur-unsur gerak yaitu :
     ==> Ruang
b   ==> Waktu
c   ==> Tenaga

Fungsi tari zapin dalam kehidupan sehari-hari :
.      a) Sarana upaca perkawinan
b     b) Sarana ungkapan kegembiraan
c     c)  Pergaulan
d     d) Hiburan
e     e) Acara penyambutan tamu
f.     f) Acara hari besar keagamaan

Fungsi tari dalam masyarakat juga mengacu kepada teori yang dinyatakan oleh soedarsono
“Tari yang sejak lama menjadi kehidupan manusia purba mempunyai peran yang sangat penting, baik sebagai sarana upacara keagamaan maupun sebagai saluran-saluran untuk mengekspresikan perasaan gembira, meskipun masih dalam bentuk yang sangat sederhana”.(1978:17)

Menurut G.P. Kurath menjelaskan ada 14 macam fungsi tari dalam masyarakat yaitu :
1.         Untuk upacara pubertas
2.         Upacara inisasi
3.         Percintaan
4.         Persahabatan
5.         Upacara perkawinan
6.         Pekerjaan
7.         Upacara kesuburan
8.         Perbintangan
9.         Upacara perburuan
10.     Lawakan
11.     Perang
12.     Upacara pengobatan
13.     Upacara kematian 
14.   Sebagai tontonan(Soedarsono, 1985 : 16)



a.         Lagu Zapin (Lancang Kuning)
Lancang Kuning Lancang Kuning
Berlayar malam hai berlayar malam
Lancing kuning lancang kuning
Berlayar malam berlayar malam

Haluan menuju haluan menuju kelaut dalam
Haluan menuju haluan menuju kelaut dalam
Lancang kuning lancang kuning
Lancang kuning lancang kuning

Kalau nahkoda kalau nahkoda
Kuranglah paham hai Kuranglah paham
Kalau nahkoda kalau nahkoda
Kuranglah paham hai kuranglah paham

Alamatlah kapal alamatlah kapal akan tenggelam
Alamatlah kapal alamatlah kapal akan tenggelam
Lancang kuning berlayar malam
Lancang kuning berlayar malam

b.         Nilai estetika dalam kostum tari zapin
Kostum atau busana tari zapin secafra tradisi memakai pakaian melayu. Pakaian ini amat banyak variasinya, karena dilatar belakangi oleh masyarakat dan kebudayaan melayu yang majemuk. Kemajemukan ini terwujud melalui kontak-kontak budaya tempatan dengan budaya luar yang berlangsung dalam kurun waktu yang cukup lama. Pakaian yang digunakan zapin yang bernuansa islamiah itu lah yang menimbulkan nilai estetika yang tinggi sebab pakaiannya saja sudah menimbulkan suatu norma kesopanan didalam berpakaian. Dan dengan cara berpakaian itu saja sudah menjadi acuan dalam masyarakat dan menjadi aturan khusus serta berpakaiannya sejalan dengan adat istiadat yang berlaku.

Fungsi penataan busana itu adalah:
a      (*) Menutupi tubuh penari
b      (*) Memperjelas garis-garis ruang gerak penari
c      (*) Mendukung ungkapan suasana tari
d      (*) Mempertegas identitas tari
e      (*) Tidak mengganggu gerak penari.

Didalam karangan buku Prof. Dr. R. M. Soedarsono yang berjudul Performance of Art In Indonesian at Globalization Era (Seni Pertunjukan Di Indonesia Di Era Globalisasi) Soedarsono mengungkapkan bahwa kata zapin itu Berasal dari kata Zaffa(Menuntun Pengantin wanita menuju perkawinan), Zafah(perkawinan), serta Zafana(tari yang dipersembahkan pada upacara perkawinan). Dan tari ini tidak begitu formal dan dilakukan secara berpasang-pasangan dengan mengutamakan langkah kaki.

Teater Bangsawan

Konon, kesenian yang bernama Bangsawan ini pada masa lalu bernama Wayang Parsi. Menurut Ediruslan dan Hasan Junus (t.t), kedatangan rombongan seniman wayang parsi ke Pulau Penang (1870) bukanlah dari Persia (Iran), melainkan dari orang-orang Majusi yang melarikan diri ke India karena tidak mau di-Islam-kan. Keturunan orang-orang Majusi yang banyak bermukim di Mumbay inilah yang akhirnya membawa wayang parsi ke Pulau Penang. Dari Penang, wayang parsi kemudian menyebar ke seluruh semenanjung Malaysia, dan juga ke kesultanan-kesultanan Melayu di Sumatera Utara, Riau, dan Kalimantan Barat.

Wayang parsi yang telah berubah menjadi Bangsawan diperkirakan masuk Penyengat tahun 1906. Dari Pulau Penyengat, akhirnya menyebar pula ke berbagai daerah di wilayah Kepulauan Riau. Walaupun demikian, kesenian ini tidak tumbuh subur di Penyengat, tetapi justeru di tempat lain, seperti Daik-Lingga dan Dabo-Singkep. Malahan, sekarang seolah-olah yang “memilikinya” adalah kedua masyarakat tersebut. Indikator ini terlihat dari setiap kali ada penampilan Bangsawan, terutama di ibukota Propinsi (Tanjungpinang), kalau tidak Bangsawan dari Dabo-Singkep, adalah dari Daik-Lingga. Oleh karena itu, setiap orang jika mendengar kata Bangsawan, maka seringkali yang terbayang dalam benaknya adalah dari kedua daerah tersebut.

Penamaan Bangsawan itu sendiri, untuk pertama kalinya, konon diberikan oleh Abu Muhammad Adnan, yang sering disebut juga dengan Mamak Phusi, kepada perkumpulan yang didirikannya. Lengkapnya adalah Phusi Indra Bangsawan of Penang. Jenis seni pertunjukan tradisional yang berupa komedi stambul dengan ceritera seputar kehidupan istana ini juga dikenal dengan nama Wayang Bangsawan atau Indra Bangsawan.

Ketika seni pertunjukan ini sedang berlangsung, maka lagu-lagu yang mengiringinya, disamping lagu-lagu yang sering dinyanyikan dalam joged atau tarian Zapin, adalah lagu-lagu Stambul Dua, Stambul Opera, dan Dondang Sayang. Sedangkan, ceritera yang dimainkan antara lain: 1001 Malam, Rakyat Melayu, Dongeng India dan Cina, dan Hikayat Melayu. Setiap ceritera terbagi dalam beberapa babak atau adegan. Dan, setiap adegan diselingi dengan sret atau selang waktu untuk menceriterakan apa yang akan terjadi pada adegan berikutnya. Jadi, semacam pengantar agar para penonton mengetahui apa yang akan disajikan adegan berikutnya.

Para tokoh pemainnya terdiri atas: Sri Panggung (diperankan oleh pemain yang tercantik yang akan menjadi primadona panggung), anak muda, raja, permaisuri, menteri, hulubalang, saudagar-saudagar, inang-dayang, dan pelawak yang oleh masyarakat setempat sering disebut sebagai Khadam. Bahasa yang dipergunakan adalah Melayu dengan dialek Riau-Kepulauan, dengan tata cara istana atau bangsawan. Berikut ini adalah penggalan dialog antara Dayang dan Hadang dalam sebuah pementasan Bangsawan.

Dayang: “Manelah Panglime Hadang nih? Sudah bermain-main di taman tak ade. Sebentar lagi kalau Tuan Puteri sudah datang kemari pasti akan murke kalau melihat Panglime Hadang tak ade. Bencilah same die. Pak Hadang, Pak Hadang, o…Pak Hadang. Kemane aje wak nih?”

Hadang: “Lagi sibuk betul aku, patik…e salah, e…sesat. Jalan-jalan ke taman larangan nih, nyari-nyari jelutung. Untunglah ada Mak Inang di belakang nunjuk sane tu…tu..hah…baru sampai”.

Pesan yang ingin disampaikan dalam berbagai cerita yang disuguhkan adalah seorang raja akan dihargai oleh rakyatnya apabila bijaksana, sebagaimana ungkapan yang tidak asing lagi bagi masyarakat Melayu, yaitu: Raja adil raja disembah, raja lalim raja disanggah dan Hukum adil kepada rakyat, tanda raja beroleh inayat.

Pemain (pelakon) seni pertunjukan ini terdiri atas: Sri Panggung dan anak muda yang merupakan tokoh utama, raja, seorang khadam, dan beberapa peran pembantu raja, menteri, hulubalang, inang-dayang, dan pengukuh lakon lainnya. Jadi, jumlahnya jika ditambah dengan pemain musik kurang lebih 20 sampai dengan 25 orang.

Durasi pementasannya bergantung pada ceritera dan waktu yang tersedia. Sedangkan waktu pementasannya pada malam hari. Pada mulanya seni pertunjukan ini tampil dalam rangka mengisi acara-acara upacara lingkaran hidup individu (khitanan dan perkawinan), hari-hari besar agama Islam, dan hari-hari nasional seperti peringatan hari kemerdekaan Indonesia, serta peringatan-peringatan lainnya. Namun, dewasa ini hanya terbatas pada hari kemerdekaan saja, itu pun tidak selalu. Dengan kata lain, bergantung pada pemerintah daerah setempat, baik di kecamatan, kabupaten, maupun propinsi.

Berbeda dengan seni pertunjukan modern, seni pertunjukan ini tidak memerlukan sutradara, walaupun setiap group mempunyai seorang pemimpin. Satu hal yang mesti ada (terbuat) adalah tempat para pemain berlaga (panggung). Panggung sebuah pementasan yang disebut sebagai Bangsawan ini dilengkapi dengan layar berlapis yang disebut dengan layar stret. Layar-layar tersebut dibubuhi dengan lukisan istana, taman, hutan (pemandangan alam) dan lain sebagainya. Maksudnya untuk menggambarkan situasi dan kondisi di mana sebuah dialog atau perseteruan terjadi. Jadi, jika suatu peristiwa terjadi di istana, maka layar yang ditampilkan adalah yang berlukisan istana, dan seterusnya.

Seni pertunjukan yang disebut sebagai Bangsawan ini adalah kesenian yang menggabungkan musik, lagu, tari dan laga. Peralatan musik yang mengiringi pementasannya terdiri atas: biola, akordion, gendang, gong dan tambur. Sesuai dengan namanya, yaitu Bangsawan, kostum yang digunakan adalah tata rias yang menyerupai orang-orang di kalangan Bangsawan. Sedangkan, perlengkapan pendukungnya menyesuaikan dengan ceritera yang ditampilkan, karena patokan yang khusus tidak ada.

Adapun urut-urutan pementasannya adalah sebagai berikut: (1) pentas dibuka dengan lagu-lagu dan tarian pembuka yang mengisahkan ceritera yang akan dimainkan. Sebagai catatan, setiap kelompok biasanya mempunyai lagu pembuka tersendiri yang sekaligus menjadi ciri khasnya; (2) peralihan dari satu adegan ke adegan berikutnya diikuti dengan pergantian layar; terkadang diselingi dengan lagu atau nyanyian yang berisi ceritera yang akan dimainkan pada adegan berikutnya; dan (3) pentas ditutup dengan lagu dan tarian penutup.

MASJID SULTAN DAIK LINGGA

Sejarah kerajaan Lingga masih dapat kita temukan di pulau Daik Lingga. Walaupun tidak dapat secara langsung merasakan masa-masa kejayaan Kerajaan Lingga, masih banyak peninggalan-peninggalan yang ada yang dapat kita saksikan secara langsung di pulau Daik Lingga. Mulai dari peninggalan Mesjid Sultan yang sampai sekarang masih digunakan sebagai tempat ibadah oleh masyarakat Daik, sampai kepada situs-situs yang masih meninggalnya jejak-jejak bangunan tua yang sampai sekarang masih tetap di jaga oleh pemerintah dan masyarakat setempat.

Masjid ini didirikan oleh Sultan Mahmud Syah III di pusat kota Daik Lingga pada awal tahun 1801. Pada mulanya masjid ini menampung 40 orang, bersamaan di perbaharuinya masjid Sultan Riau di Penyengat, tempat bernastautinnya kedudukan YAMTUAN MUDA dan permaisuri pertamanya ENGKU HAMIDAH. Masjid Jamik Sultan Lingga inipun diganti dengan bangunan beton yang dibangun tanpa tiang tengah sebagai penyangga dan dapat memuat 400 orang jemaah.
Beberapa momentum berhasil saya dokumentasikan lewat kamera walaupun kualitas gambar sedikit kurang bagus. Berikut beberapa gambar yang berhasil saya ambil dengan kamera saya :





Makam merah

Terletak ±800m dari Situs Istana Damnah. Disebut juga Makam Merah karena dari awalnya berwarna merah. Makam Yang Tuan Muda ke-10 Riau Raja Muhammad Yusuf Al-Ahmadi, beliau adalah Yamtuan Muda Riau yang terakhir.



Bilik 44
 
Fondasi bangunan ini direncanakan oleh Sultan Muhammad Syah (1832-1841) dan dibangun pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Syah Muzzafar (1832-1857) direncanakan sebagai tempat tinggal keluarga sultan atau sumber lain sebagai tempat untuk menyimpan berbagai jenis kerajinan.
      

Ukuran Bilik 44 sekitar 48X49 meter dan jumlah kamar yang baru disiapkan sebanyak 32 buah. Kamar ini tidak dapat selesai karena Sultan Mahmud Syah Muzzafar itu discanded dari tahta Kesultanan Riau Lingga pada 23 September 1857.



makam bukit cengkeh
Makam

 Terletak di Bukit Cengkeh, Jl. Sultan Abdurrahman, berjarak sekitar 25 meter sebelah barat aliran Sungai Tanda. Pintu gerbangnya terbuat dari besi berukuran tinggi sekitar 2 meter dan terletak di sisi tenggara. Di bagian tengah kompleks makam terdapat bangunan berdenah persegi delapan (oktagonal) yang merupakan cungkup makam Sultan Muhammad Syah. 

Ada 3 (tiga) Sultan yang dimakamkan di Bukit Cengkeh, yaitu:

1. Sultan Abdurrahman Syah
Putra Sultan Mahmudsyah III ini merupakan Sultan Johor–Pahang–Riau Lingga XVII (1812-1824) dan Sultan Lingga Riau yang pertama (1824-1832). Mangkat di Daik Lingga pada malam Senin 12 Rabiul Awal 1240 H (1832 M) dan bergelar “Marhum Bukit Cengkeh” . Selain dikenal sangat alim dan giat menyebarkan agama Islam, Sultan juga membangun benteng Kuala Daik, Benteng di Bukit Cening dan Benteng di Pulau Mepar. 
2. Sultan Muhammad Syah II
Sultan Lingga Riau yang ke-dua ini memerintah dari tahun 1832-1841. Selain membangun Bilik 44 dan Istana Kedaton (Keraton), Baginda Sultan dikenal mencintai bidang seni, seperti seni ukir, tenun dan kerajinan. Mangkat di Daik Lingga pada tanggal 9 Januari 1841 dan diberi digelar “Marhum Kedaton/Keraton”.
 
3. Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah II
Putra ke-dua Sultan Abdurrahmansyah atau adik dari Sultan Muhammadsyah diangkat menjadi Sultan Lingga Riau IV di Daik (1857-1883). Mangkat pada tahun 1883 dan dimakamkan di Bukit Cengkeh. Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah II dikenal sebagai Sultan yang sangat memperhatikan perekonomian rakyat dan kerajaan seperti menggalakkan penanaman sagu dan gambir, memperkenalkan industri sagu, membangun sarana transportasi seperti kapal Sri Lanjut, Betara Bayu, Lelarum, dan Gempita, mengembangkan penambangan timah di Singkep dan membangun sekolah (kini SD Negeri 001 Daik) yang dibangun pada tahun 1875, serta membangun Istana Damnah (1860). Pada masa ini Lingga mengalami perkembangan perdagangan yang sangat pesat dan jumlah penduduk dari berbagai etnis yang bertempat tinggal di Daik saja sekitar 20.000 jiwa.




benteng bukit ceneng
Meriam

    Benteng berukuran 32 m X 30 m ini terletak di Bukit Cening Kampung Seranggung, Dibangun pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Syah III (1761-1812). Di dalam benteng terdapat 19 buah meriam, dua diantaranya bertuliskan angka 1783 dan 1797 serta VOC. Meriam terpanjang berukuran panjang 2,80 m dan berdiameter 12 cm, disebut juga dengan Meriam Tupai Beradu yang diapit kiri-kanan dengan meriam Mahkota Raja.




BEKAS ISTANA DAMNAH
Tangge Bekas Istane Damnah

    Yang tersisa dari bangunan yang dahulunya sangat megah ini hanyalah tangga muka, tiang-tiang dari sebahagian tembok pagarnya yang seluruhnya terbuat dari beton. Sekarang puing istana ini terletak dalam hutan belantara yang disebut kampung Damnah.
Istana Damnah didirikan oleh Raja Muhammad Yusuf AI-Ahmadi, Yang Dipertuan Muda Riau X (1857-1899). Dalam tahun 1860 olehnya didirikan istana Damnah untuk kediaman Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah II, dimana sebelumnya Sultan ini di Istana Kota Baru tak berjauhan dari pabrik sagu yang didirikannya.


Reflika Istana Damnah





PINTU GERBANG (MALAM 7 LIKUR)
Pintu Gerbang


   Tradisi malam tujuh likur menjelang beberapa hari tibanya saat yang dinantikan umat muslim khususnya di bumi bunda tanah melayu untuk merayakan Idul Fitri sudah mulai terasa dan hikmat. Nyala lampu yang terbuat dari berbagai kaleng minuman bekas dengan berbahan bakar minyak tanah atau solar dipasang sepanjang jalan membentuk barisan yang indah ditambah dengan kemegahan pintu-pintu gerbang saat memasuki kawasan suatu RT, RW atau Desa yang kita masuki.

     Berbagai ornamen berbentuk indah dengan desain dan pola membentuk  kaligrafi menghiasi gerbang-gerbang yang dibuat masyarakat dan pemuda tempatan secara gotong royong. Dari jauh terlihat seperti lampu neon yang terpasang dengan sengaja. Hal ini mengundang masyarakat berduyun-duyun datang bersama putra-putri merkea selepas sembahyang tarawih dengan menggunakan kendaraan roda dua atau empat menyaksikan gerbang mana yang menjadi idola.



Pantai Dungun di Daik
Gajah Mine


Dungun Beach Pantai ini terletak di desa Teluk Kecamatan Lingga Utara. Di pantai inilah terdapat satwa laut langka yang ditemukan masyarakat terdampar mati pada tanggal 13 Januari 2005. Masyarakat tempatan (lokal) menamainya GAJAH MINA, namun nama ilmiahnya sedang dalam proses identifikasi oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Jakarta. Seluruh tulang belulang satwa laut ini dikumpulkan oleh keluarga Bapak Umar Sanen (Pak Cenot) yang kemudian diserahkan ke Museum Mini Linggam Cahaya pada tanggal 6 Januari 2006.

Data dasar:
  • PANJANG PANGKAL EKOR–KEPALA: 12.40 METER
  • PANJANG PANGKAL EKOR–UJUNG EKOR: 1.80 METER
  • PANJANG GADING/TARING: 2.40 METER
  • TEBAL KULIT: 10 CM
  • PANJANG SIRIP (BAWAH): 78 CM
  • LEBAR SIRIP (BAWAH): 47 CM



Pemandian Tengku Ampuan Zahara/Lubuk Pelawan di Daik
 

Adalah tempat pemandian putri Diraja Sultan Mahmud Muhazam Syah, Engku Embong Fatimah istri Yamtuan Muda Muhammad Yusuf Bunda dari Sultan Lingga yang terakhir Sultan Abdul Rahman Mu’ahan Syah Sultan Lingga yang ke 6 dan istrinya Engku Ampuan Zahara.




Air terjun Resun terletak di Daik, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau Indonesia. Airnya berasal dari sungai-sungai yang mengairi Gunung Daik dan banyak dikunjungi wisatawan lokal saat hari libur.


 
PULAU BERHALA
 
PULAU Berhala memiliki panaroma pantai pasir putih dan batuan vulkanik yang sangat indah dengan lokasi yang sangat dekat dengan daerah penyangga Taman Nasional Berbak. Pulau yang luasnya kurang lebih 10 km persegi ini pada bagian barat mempunyai pantai yang landai dan pada bagian Timur mempunyai tebing-tebing batu karang yang cukup curam. Dalam keadaan laut surut pulau berhala dapat dikelilingi dengan berjalan kaki dalam waktu 6 jam.



Pulau ini dihuni oleh 9 Kepala Keluarga yang berasal dari Suku Melayu Riau dengan mata pencarian sebagai nelayan. Seluruh bukit yang mempunyai ketinggian sekitar 2.000 meter. terdapat pada bagian tengah pulau dan disini ditemui dua buah peninggalan sejarah dan budaya, diantaranya Makam Datuk Paduko Berhalo.

Beberapa Koleksi Fhoto Wisata Lingga :

1. Air Terjun Tande di Daik


2. Air Terjun Cik Latif di Dabo


3. Air Terjun Reson di Daik


                                                                           4. Pemandian Air Panas di Dabo


5. Pemandian Batu Ampar di Dabo


6. Batu Babi di Serteh Daik


7. Batu Belah di Daik


 8. Batu Buaya di Serteh Daik


9. Kelong Tradisional


10. Pantai Pasir Panjang di Daik



 11. Pulau Pena'ah Kec. Senayang


12. Pulau Bukit Kec. Senayang





14. Pulau Tiga


Demikianlah yang dapat saye buat tentang kampung halaman saye "Daek" di :

Blognye


Template by : kendhin x-template.blogspot.com